PENGAKUAN….

Posted: 23 November 2010 in kumpulan novel religi
PENGAKUAN 

Oh… Tuhan, Aku bukanlah ahli surga

Juga tak mampu menahan siksa neraka

Kabulkan taubat ampuni dosa-dosaku

Hanyalah engkau maha pengampun dosa hambamu

Dosa-dosaku tak terhitung bagai debu

Ya Ilahi kumohon rahmat kasihmu

Sisa umurku berkurang setiap hari

Dosa-dosaku makin bertambah ya Ilahi

 

Nama-nama personel

Posted: 19 November 2010 in Nama-nama personel

1. Ghoust Rifin

2. Rohimah

3. Dalilatul Adawiyah

4. Mubayyanah

5. Musyarrofah

6. Fauzah

7. Noer Hasanah

8. Alyaumah

TENTANG PENULIS

Posted: 19 November 2010 in TENTANG PENULIS

Nama : Moh. Arifin Assayad, S.Pd.I

TTL     : Sampang, 07 Mei 1981

Alamat Sekarang : PP. Miftahul Ulum Al-Islamy Jl. KH. Ach Dahlan No. 374 Kedungdung Modung Bangkalan

Jabatan     : – Staf Pengajar SMK Al-Khatibiyah (Guru Agama)

– Waka Kesiswaan SMK Al-Khatibiyah

– Pembina OSIS SMK Al-Khatibiyah

Pendidikan :

SDN Noreh VI   1990 -1995

MTs. Miftahul Ulum Al-Islamy 1996-1998

MA. Miftahul Ulum Al-Islamy 1999-2001

STIT. Miftahul Ulum 2001-2005

Organisasi :

OSIS

BEM STIT-MU

PMII Kom. STIT-MU

PMII Cab. Bangkalan

FIS-MU (Forum Intelektual Santri Miftahul Ulum)

Resimen Mahasiswa (MENWA) STIT-MU

FORUM KOMUNIKASI ALUMNI MAHASISWA STIT-MU

KOMUNITAS PECINTA SENI KALIGRAFI

 

Untuk Gadis Desa (UGD)

Posted: 18 November 2010 in kumpulan novel religi

1

SENJA DI DESA PANDEGKONG

Di matanya, Desa Pandegkong sore itu tampak begitu memesona. Cahaya mataharinya yang kuning keemasan seolah menyepuh atap-atap rumah, daun-daun dan hewan-hewan gembalaan yang lalu lalang di jalan. Semburat cahaya kuning yang terpantul dari riak sungai menciptakan aura ketenangan dan kedamaian.

Di atas mata air yang jernih, anak-anak masih asyik bermain kejar-kejaran di dalam kubangan air sungai. Ada juga yang bermain rumah-rumahan dari tanah liat. Di tangan anak-anak itu tanah liat seumpama butir-butir emas yang lembut diterpa sinar matahari senja.

Di beberapa tempat, di sepanjang sungai, para ibu-ibu tampak sibuk dengan cuciannya. Di antara mereka masih ada yang membawa alat-alat tani di tangannya. Menandakan mereka baru saja dari sawah dan ladang dan belum sempat pulang ke rumah.

Suasana senja di sungai rupanya lebih menarik bagi mereka daripada suasana senja di rumah. Bercengkerama dengan hilir air sungai rupanya lebih mereka pilih daripada bercengkerama dengan keluarganya di rumah.

Senja  menjadi waktu istimewa bagi mereka. Waktu untuk bertemu dengan para ibu yang lain, saling berbagi cerita, duduk berkumpul, dan ada saja yang dibicarakannya. Saat itu yang ada dalam hati dan pikiran mereka adalah indahnya ketika berkumpul dalam suasana senja serti itu. Tak terlintas sedikit pun bahwa senja yang indah yang mereka lalui itu akan menjadi saksi sejarah bagi mereka kelak. Ya, kelak ketika arah pembicaraan mereka harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta, di hadapan pengadilan Dzat Yang Maha Adil, yang tidak ada sedikit pun kezaliman dan ketidakadilan di sana.

yang membuat Pandegkong begitu menakjubkan. Bukan semata-mata mata air yang bersih yang membuat pandegkong begitu menawan. Akan tetapi, lebih dari itu, yang membuat segala yang dipandangnya tampak menakjubkan adalah karena musim semi sedang bertandang di hatinya. Matahari kebahagiaan sedang bersinar terang di sana. Bunga bunga kesturi sedang menebar wanginya. Tembang – tembang cinta mengalun di dalam hatinya, memperdengarkan irama terindahnya.

Dan penyebab itu semua, tak lain dan tak bukan adalah seorang gadis pualam, yang di matanya memiliki kecantikan bunga mawar putih yang sedang merekah. Gadis yang di mata – nya seumpama permata safir yang paling indah.

Gadis itu adalah kilau matahari di musim semi. Sosok yang sedang menjadi buah bibir di kalangan para pemuda Desa dan masyarakat Pandegkong. Gadis yang pesonanya dikagumi banyak orang. Dikagumi tidak hanya karena kecantikan fisiknya, tapi juga karena kecerdasan dan prestasi-prestasi yang telah diraihnya dipesantren. Lebih dari itu, gadis itu adalah putri orang nomor satu bagi masyarakat pandegkong.

Dialah Siti Nur Jannah Ersyad. Putri satu -satunya Bapak Ersyad pengusaha sate Madura yang sukses. Hampir genap satu tahun gadis itu tinggal Desa Pandegkong. Selain untuk menemani kakek dan neneknya, keberadaannya di Desa Pandegkong itu untuk melanjutkan studinya dipesantren.

Kebetulan Siti Nur jannah adalah salah satu dari ibu-ibu yang mandi disungai. Gerak geriknya menjadi pusat perhatian para pemuda yang nongkrong di Musholla wakaf yang ada di tepi sungai.

“ Nak Rohman belum berangkat ke Yogya ?” sapa seorang ibu, yang membuat Rohman tersentak.

“ oh…belum bu’, Insya Allah besok pagi saya berangkat bersama bapak” jawab Rohman pada ibu nifah.

“ memangnya bapakmu ngga’ ke Jakarta nak Rohman ?” tanya bu Nifah.

“ nanti bu..setelah dari Yogya, bapak langsung ke Jakarta, bapak mau ngantarkan saya sekalian mau suwan ke kiai Ridwan”

“ hati-hati besok dijalan ya nak Rohman….”

“terima kasih bu’…………”

Bu hanifah berlalu dari hadapan Abd. Rohman, pandangannya kembali tertuju pada pesona gadis desa itu yang tidak lain adalah Siti Nur Jannah. 1 jam waktu telah dihabiskan untuk menikmati pesona senja di tepi sungai, akhirnya Rohman kembali kerumahnya.

“gimana Man…barang-barang yang mau dibawa besok sudah disiapkan semua ?” tanya bapaknya.

“belum Pak….nanti saja setelah sholat Isya’ saya akan kemasi semua barang-barang yang akan saya bawa besok” jawab Rohman.

“ O iya Man….itu tadi ada titipan dari bu Nifah, katanya ada sedikit kacang untuk kamu makan setelah di Pesantren”

“ tadi saya ketemu sama bu Nifah di sungai Pak, tadi juga sempat berbincang-bincang denganya”

“ saya kasian Man sama Bu Nifah, semenjak ditinggal suaminya meninggal, dia menanggung beban keluarganya sendirian” sambung bapaknya

“lho…memang saiful kemana Pak ? “ tanya Rohman.

“ itu dia Man….semenjak kawin dengan orang Palembang itu sudah 3 tahun si saiful tidak pulang, bahkan tidak pernah memberi kabar pada ibunya sendiri” jawab bapaknya.

“kasian ya Pak……” Rohman menggelengkan kepala.

“sekarang bu Nifah sudah memulai bisnis kecil-kecilan Man, ya…kulakan kacang, terus dijual kepasar” sang bapak menjelaskan.

“Alhamdulillah kalau bagitu, o iya Pak….sejak kapan anaknya pak Ersyad tinggal disini ? tanya Rohman.

“Kenapa Man …?”

“Cuma nanya saja ko’ Pak….”

“Dia cantik lo Man…..”

“Semua orang tahu itu Pak….”

“Dia baru 1 tahun di desa ini Man, dia melanjutkan sekolahnya di Pesantren Al-Mu’min, dia pinter Man, belum 1 tahun di Pesantren, dia sudah terkenal…” jelas bapaknya.

“Alhamdulillah Pak…ternyata Pak Ersyad tidak rugi punya putri seperti dia, cantik, pinter lagi…Ibu kemana pak ?” tiba-tiba Rohman menyakan ibunya yang mulai dari tadi tidak keliatan.

“Ibumu masih kerumahnya pamanmu di Trenggalis, itu..sama bu Romlah…”

“ Ya sudah Pak…saya Ambil Wdhu’ dulu, persiapan sholat…” Rohman Pamit.

Malam mulai membentangkan jubah hitamnya. Lampu-lampu jalan tidak seterang di kota dimana Rohman menyantri. Pandegkong memperlihatkan sihirnya yang lain. Sihir malamnya yang tak kalah indahnya. Kelap kelip kunang-kunang mengalahkan lampu kota yang mendapat julukan “Sang Pengantin Laut Mediterania” itu bagai tebaran intan berlian. Abdur Rohman menutup gorden jendela kamarnya. Ia bergegas untuk shalat di masjid yang jaraknya tak jauh dari rumahnya.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu hendak keluar, Hp di kamarnya berdering. Ia terdiam sesaat. Ia menatap handpone yang sedang berdering itu sesaat dan terus membuka pintu lalu melangkah keluar. “Kalau dia benar-benar perlu, nanti pasti nelpon lagi setelah shalat. Apa tidak tahu ini saatnya shalat,” lirihnya menuju Masjid.

Ia membenarkan tindakannya itu dengan berpikir bahwa datangnya azan yang memanggilnya itu lebih dulu dari datangnya dering telpon itu. Dan ia harus mendahulukan yang datang lebih dulu. Ia harus mengutamakan undangan yang datang lebih dulu. Apalagi undangan yang datang lebih dulu itu adalah undangan untuk meraih kebahagiaan akhirat.

Saat pulang dari masjid, Rohman bertemu Eva didepan pintu rumahnya. Melihat Rohman wajah Eva tampak riang. “Hei ke mana saja? Aku sudah mencari Mas Rohman ke mana-mana? Sudah dua puluh tujuh kali aku ngebel ke Handphone Mas Rohman! Ada hal penting! Ayo kita bicara di rumah mas Rohman saja!”

Eva nerocos tanpa memberi kesempatan menjawab. Gadis berpostur tubuh indah itu berbalut kaos lengan panjang ketat berwarna merah muda dan celana jeans putih ketat. Balutan khas gadis-gadis aristokrat Eropa itu membuatnya tampak langsing, padat, dan berisi. Parfumnya menebarkan aroma bunga-bungaan segar dan sedikit aroma apel. Wajahnya yang putih dengan mata yang bulat jernih memancarkan pesona yang mampu menghangatkan aliran darah setiap pemuda yang menatapnya. Azzam masih berdiri di tempatnya. Entah kenapa begitu ia mencium parfum yang dipakai Putri Pak Kades itu ia merasakan nafasnya sedikit sesak, jantungnya berdegup lebih kencang, dan ada sesuatu yang tiba-tiba datang begitu saja mengaliri tubuhnya.

“Lho kok diam saja, ayo Mas, kita bicarakan di rumah Mas saja! Ini penting!” Eva kembali mengajak Rohman masuk ke rumah Rohman. Rohman tergagap. Ia mengangguk. Dan mau tidak mau Rohman mengikutinya. Sebab usaha bapaknya awalnya diberi modal oleh Pak Kades ayah dari Eva.

“Mbak Eva sudah shalat?” tanya Rohman pelan. Ia mencoba menguasai dirinya, yang sesaat sempat oleng. Ia memanggilnya ‘Mbak’, meskipun ia tahu Eva lebih muda tiga tahun dari dirinya. Tak lain, hal itu karena rasa hormatnya pada gadis itu sebagai Putri Pak Kades.

“Ah shalat itu gampang nanti saja! Yang penting itu. Ada tugas penting untuk Mas Rohman malam ini !” sahut Eva nyerocos tanpa rasa dosa karena menggampangkan shalat.

“Tu… tugas?”

“Ya.”

“Untuk saya!?”

“Ya, untuk siapa lagi kalau bukan untuk Mas Rohman?”

“Tugas dari siapa?”

“Ya dariku.”

“Dari Mbak?”

“Iya.”

Rohman menghirup nafas. Detak jantungnya sudah normal. Ia sudah menguasai dirinya sepenuhnya. Dengan mimik serius ia berkata, “Sebentar Mbak, bukankah tugas saya sudah selesai tadi sore Mbak ? semua tugas kuliah Mba’ sudah saya kerjakan, dan tugas-tugas itu sudah saya serahkan pada pak Kades, sekarang saya harus istirahat, karena besok saya harus berangkat ke Yogya, kembali ke pesantren, Jika ada tugas lagi Mba’ kerjakan sendiri. Jelas saya tidak bisa Mbak, maaf ! Apa hubungannya Mbak dengan saya sehingga dengan seenaknya Mbak memberi tugas kepada saya!? Apa saya bawahan Mbak!? Maaf saya tidak bisa Mbak!” amarah Rohman mulai tampak karena dirinya merasa dipaksa.

“ Tapi Mas Rohman….saya tidak bisa mengerjakan tugas ini sendiri, ini terlalu sulit…” rengek si Eva

“ Kalao Mba’ Eva mau belajar, tidak akan ada istilah sulit Mba’..”

“Terus gimana ni Mas ? “

“ Coba Mba’ kerjakan sendiri, kalau Mba’ selalu mengandalkan orang lain setiap ada tugas kuliah, bagaimana Mba’ bisa belajar ? “

“ Ah…Mas pelit banget, ya sudah kalau tidak mau..!”

“ Maaf  Mba’…Bukannya saya tidak mau, tapi…saya hanya tidak mau kebiasaan Mba’ yang seperti itu terus larut dalam diri Mba’, itu adalah kebiasaan jelek, tidak bagus Mba’…” Rohman mencoba memberikan pengertian pada Eva.

“ Ya sudah Mas Eva pulang dulu, Selamat jalan ya Mas hati-hati besok dijalan…”

“ Terima kasih Mba’..”

Eva langsung pulang dengan rasa kecewa, padahal tugas hanyalah sebagai alasan, tapi yang paling utama adalah dia bisa bertemu dengan Rohman untuk terakhir kalinya, tanpa disadari si Rohman, Eva menaruh perhatian padanya.

Setelah Eva berlalu dari hadapannya, Rohman masuk kemarnya untuk mengkemasi barang-barang yang akan dibawa besok. Setelah barang-barangnya sudah siap, Rohman merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, belum sempat memejamkan mata, tiba-tiba Handphone berdering, sebuah massage masuk di inboknya, setelah dilihatnya ternyata massage itu dari Eva. Alangkah terkejutnya hati Rohman ketika membaca massage itu, sebuah ungkapan perasaan yang tidak pernah disadari oleh Rohman selama ini. Namun Rohman tidak begitu memikirkannya, setelah dibaca, dia matikan Handphonenya tanpa membalas massage itu.

Selesai membaca Ayat Kursi Rohman tidak bisa langsung tidur. Ia merasa ada yang salah hari ini. Yang salah itu adalah ungkapan perasaan putri Pak Kades dan harapannya yang tidak-tidak pada dirinya. Setelah sembilan bertahun-tahun dipesantren, baru kali ini ada gadis yang langsung mengungkapkan perasaannya pada dirinya.

Dulu waktu di pesantren, waktu di Madrasah Aliyah ia pernah merasa suka pada seorang santriwati yang di matanya sangat memesona. Namanya Sya’bania Syahid. Selain Wajahnya yang menurutnya bagai bidadari suaranya sangat merdu. Santriwati dari Jepara itu menjuarai lomba Pidato 3 Bahasa tingkat Jawa Tengah. Namun ia hanya bisa memendam rasa sukanya itu dalam hati. Sebab ia tahu, Sya’bania Syahid sudah dipinang oleh putra Ustad ghoffar, Setelah itu ia tidak mau membuka hatinya lagi.

Namun kini hatinya mulai luluh oleh pesona sang gadis jelita Siti Nu Jannah putri bapak Ersyad, yang ia heran, entah kenapa ketika mendengar prestasi-prestasi Putri Pak Ersyad itu hatinya merasakan sesuatu yang lain. Ia mengagumi gadis itu. Dan ketika melihat wajahnya disungai ia semakin kagum. Lalu ketika ia baru sedikit dekat saja sudah merasakan apa yang dulu ia rasakan terhadap Sya’bania Syahid. Ia harus mengakui ia jatuh cinta pada Siti Nur Jannah dan berharap yang tidak-tidak. Ia sendiri heran, kenapa? Padahal ini bukan kali pertama ia bertemu dengan gadis cantik. Ia sering melihat bahkan ia dikagumi di kampusnya, banyak gadis yang menaruh perhatian padanya. Bahakan di antara para gadis yang mengaguminya adalah putrid dari pejabat yang memegang peranan penting di pemerintahan. Tapi ia merasa biasa biasa saja. Ia bahkan pernah ia pernah diiming-imingi kekayaan asalkan Rohman menikahi anak gadisnya.

Ketika Rohman tinggal di Jakarta bersama bapak dan ibunya, dia bertemu dengan seorang Presenter yang masih kuliah di Jakarta. Namanya Mufa. Presenter cantik itu kelihatannya tertarik padanya. Sebab setelah Mufa kembali ke Jakarta dari tour acaranya di Televisi swasta, Mufa sering menelpon dirinya dan mengirimnya paket. Namun ia sama sekali tidak tertarik padanya. Kini Mufa sudah jadi bintang Iklan. Dan ia juga tidak minta sedikit pun untuk sekadar menyapanya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan Presenter itu karena gaya hidupnya yang ia anggap tidak sejalan dengan jiwanya. Dan cara berpakaiannya yang menurutnya kurang santun meskipun sudah berulang kali ia nasehati.

Dalam hati ia berkata dengan tegas, “Cantik iya. Tapi kalau tidak bisa menjaga aurat, tidak memiliki rasa malu, tidak memakai jilbab, tidak mencintai cara hidup yang agamis, berarti bukan gadis yang aku idamkan!” Standar dia untuk calon isteri minimal adalah Sya’bania. Dan standar itu tidak pernah ia turunkan. Tapi entah kenapa saat bertemu Siti Nur Jannah yang cara berpakaian dan cara hidupnya, menurutnya, sangat sederhana sekali dalam berbusana tapi tetap menutup aurat hatinya bisa luluh. Kenapa ia menurunkan standar yang telah bertahun-tahun ia jaga. Bahwa calon isterinya, minimal adalah perempuan yang setara Sya’bania yang kecantikannya seperti putri Cleopatra, fasih membaca Al-Quran dan asli warga pesantren, menjaga kerapian dalam berbusana. Dan betapa menyesalnya dirinya begitu menurunkan standar ternyata yang ia dapatkan adalah kehinaan. Akal sehatnya menggiringnya untuk kecewa pada Siti Nur Jannah. Kecewa karena ia merasa sudah bisa meraba alur kehidupannya.

Entah kenapa tiba-tiba ia merasa berdosa. Ia merasa berdosa dan jijik pada dirinya sendiri yang begitu rapuh, mudah terperdaya oleh tampilan luar yang menipu. Ia jijik pada dirinya sendiri yang ia rasa terlalu cair pada lawan jenis yang belum halal baginya. Ia heran sendiri kenapa jati dirinya seolah pudar saat berhadapan atau berdekatan dengan Siti Nur Jannah. Apakah telah sedemikian lemah imannya sehingga kecantikan jasadi telah sedemikian mudah menyihir dirinya. Ia beristighfar dalam hatinya. Berkali-kali ia meminta ampun pada Dzat yang menguasai hatinya. Rohman meratapi kekhilafannya dan memarahi dirinya sendiri. Dalam hati ia bersumpah akan lebih menjaga diri, dan hal yang menistakan seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Ia juga bersumpah untuk segera menemukan orang yang tidak kalah hebatnya dengan Sya’bania, berjilbab rapat, salehah, bisa berbahasa Arab dan berbahasa Inggeris dengan fasih. Kalau terpaksa gadis itu harus orang Desa tak apa. Yang jelas rasa terhinanya harus ia sirnakan.

Setelah lama berfikir, akhirnya Rohman dapat memejamkan matanya. Perjalanan dari Desa Pandegkong ke Yogyakarta bukanlah perjalan yang sebentar, tapi cukup memakan waktu berjam-jam. Maka dari itu, diperlukan istirahat yang cukup biar dalam perjalanan tetap fres.

Baca entri selengkapnya »

1

GADIS BERKERUDUNG MERAH

DI PEREMPATAN JALAN

Pagi itu jalan raya Indra Rahayu penuh dengan mobil-mobil yang berlalu lalang, Mereka memulai aktivitasnya, mulai dari pedagang kaki lima samapai dengan para pengusaha maupun pejabat yang bernagkat ketempat kerjanya masing-masing.

Para pengamen jalananpun tidaka ketinggalan sudah melakukan aktivitasnya di jalan-jalan terutama diperempatan jalan yang terdapat lampu stop dengan lampu berwarna merah, kuning  dan hijau. Diperempatan jalan Indra Rahayu yang merupakan jalur utama, panyak dipadati para pedagang dan para pengamen. Para pengamen itu tampak berebutan menghampiri mobil-mobil yang sedang berhenti karena lampu merah. Anak kecil seusia kelas dua SD tampak berlari menhampiri sebuah mobil sedan hitam dengan membawa alat musik sederhana yang terbuat dari tutup botol fanta. Dengan alat seadanya anak kecil itu mulai membawakan lagu Wali Cari Jodoh, belum selesai anak kecil menyanyi selembar uang ribuan keluar melalui jendela mobil itu, anak kecil itupun pindah kemobil yang lain setelah mendapatkan imbalannya.

Dibawah lampu merah, sesosok tubuh kurus yang sangat menyedihkan dengan bibir dan wajah pucat memakai kerudung warna merah berdiri seperti sedang menunggu seseorang,  sesekali pandangannya menoleh kekiri dan kekanan, kekwatiran sangat terlihat diwajah gadis itu, tubuhnya yang kurus tidak bisa menyembunyikan keindahan wajahnya. Sebuah mobil Inova berwana hitam berhenti dhadapannya dengan mengeluarkan selembar uang seribuan untuk diberikan pada gadis itu.

“Maaf…Untuk apa uang ini ?” tanya gadis berkerudung merah.

“Ya….Untuk kamu ambil,” Jawab si pengemudi mobil.

“Iya,…tapi untuk apa ?” Gadis itu masih penasaran.

“Lho…bukannya kamu disini untuk mengemis ?” jawab dari pengemudi mobil Inova itu.

“Maaf pak…saya bukan seorang pengemis, saya disini hanya untuk mencari adik saya.” Jawab Gadis itu dengan penuh senyum keramahan.

“Jangan malu dong Mba’, ambil aja uang itu. Kamu boleh bilang kamu bukan pengemis, tapi penampilanmu itu, jelas-jelas kamu sedang menunggu sedekah dari para pengendara yang lewat disini, iya kan ?” Ujar orang yang ada disebelah pengemudi itu.

“Sekali lagi maaf….saya memang orang yang tidak punya, tapi bukan berarti saya harus meminta-minta seperti yang anda kira.” Jelas gadis berkerudung merah dengan sangat sopan sembari meninggalkan tempat itu setelah mengembalikan uangnya.

“Wah….sombong banget cewek pengemis itu.” Kata orang yang disamping pengemudi Inova hitam.

Setelah meninggalkan tempat itu, gadis berkerudung merah menelusuri trotoar sambil menoleh kekanan dan kekiri, tiba-tiba suara anak kecil terdengar dari sebrang jalan.

“Mba’ Izza…..” suara anak kecil itu memanggil namanya. Izza masih mencari asal suara itu yang tak lain adalah suara adiknya.

“Lukman….dimana kamu ?” Izza berteriak memanggil adiknya.

“Saya disini mba’…..” Lukman melambaikan tangan dari sebrang jalan.

“Lukman…cepat kesini, ngapain kamu disini ?”

Lukman berlari menyeberangi jalan menghampiri Izza.

“Apa yang kamu lakukan disini man ? kenapa kamu tidak sekolah ?” Tanya Izza pada Lukman setelah berada disampingnya.

“Lukman ngamen Mba’, Lukman juga mau berhenti sekolah”. Jawab Lukman

“Apa ??? kamu ngamen ?” Tanya Izza Kaget.

“Iya Mba’…Lukman kasian sama Mba’, Lukman juga harus bisa bantuin Mba’ cari nafkah, apalagi mba sekarang lagi sakit. Ini mba’ hasil dari Lukman yang ngamen tadi.” Kata Lukamn sambil memberikan segenggam uang ribuan pada Izza. Izza mengambilnya dengan sangat pelan sekali.

“Ya Allah…..Lukman, kamu tidak usah bekerja seperti ini, mba’ tidak mau bantuan kamu untuk menghidupi kita, mba’ hanya ingin kamu belajar. Itu saja cukup.” Ujar Izza dengan kemarahan yang ditahan.

“Tapi Lukman tidak mau menjadi beban buat mba’…” sambung Lukman.

“Apa ? Beban katamu ? mba’ tidak merasa terbebani dengan kehidupan kita ini, Lukman…. belajar adalah sebuah kewajiban, dimana mba’ wajib membiayainya, itu bukan beban Lukman, sekarang ayo kita pulang, mba’ tidak ingin kamu ada ditempat ini lagi…..” Kata Izza dengan mengajak lukman pulang .

“Ngomong-ngomong Mba’ Izza tahu dari siapa Lukman ada disini ?” Tanya Lukam sambil berjalan disamping Izza.

“Tadi  waktu Mba’ mengantarkan kue kewarung, Mba’ lihat kamu sedang ngamen, tapi Mba’ masih ragu, apa itu benar kamu atau bukan, makanya Mba’ samperin ke lampu merah itu.”

“Mba’ Izza tidak marahkan sama Lukman ?”

“Lukman….Sebenarnya Mba ingin marah sama kamu, tapi itu tidak bisa mba lakukan, karena Lukman adalah satu-satunya yang mba’ punya sekarang, dari itu mba’ minta sama lukman, jangan ulangi lagi ya dik,…!!!” Kata Izza dengan senyumnya yang sangat menawan sambil memegang kedua pundak Lukman.

“ Terima kasih ya Mba’…Lukman janji tidak akan melakukannya lagi, mba’ Izza cantik deh…”

* * *

Mobil Innova hitam melaju dengan kencang melewati jalan Kusuma Bangsa.

“Bob…aku masih penasaran dengan gadis tadi “. Andy mengawali pembicaraan setelah beberapa saat tidak ada perbincangan.

“Gadis yang mana An ?” tanya Boby.

“Gadis tadi di lampu merah” jelas Andy

“O…Gadis pengemis yang sombong itu ?”

“Bob…hati-hati dong kalau ngomong…”

“Lo..kenyataannya memang seperti itu kan ?”

“Belum tentu dia memang seorang pengemis Bob..” Andy membela.

“Kayaknya ada yang aneh deh pagi ini pada dirimu, sejak kapan kamu mulai memikirkan gadis seperti dia ?” kata Boby heran

“ Bukan memikirkannya, tapi coba kamu ingat senyumannya, cara bicaranya. Kayaknya dia memang bukan seorang pengemis…”

“Ah…dijaman sekarang ini An, Seorang pengemis bisa menjadi Malaikat kalau sudah ada maunya, apa lagi melihat cowok seganteng kamu….”

“Tapi bener deh Bob, aku bener-bener penasaran, penampilannya yang lusuh tidak bisa menutupi kecantikannya, apa lagi senyumnya yang….” Andy tidak meneruskan ucapannya.

“yang apa ? itu kan….bener kataku, jangan-jangan kamu sudah ketularan Virus COP “

“Apaan tuh Virus COP “ Tanya Andy penasaran

“Virus Cinta Orang Pinggiran” Jawab Boby.

“Kamu itu ada-ada saja Bob, sudahlah jangan bahas masalah itu lagi, kita sudah hampir sampai…”

Mobil Innova hitam itu memasuki sebuah kantor bertingkat lima dengan papan nama didindingnya “CV. KARUNIA PUTRA” . setelah memarkir mobilnya Andy dan Boby memasuki kantor tersebut dengan disambut senyuman manis dari Resepsionis. Semua pegawai disitu juga menyambutnya dengan berdiri dan ucapan selamat pagi.

“Ratna…..” Andy memanggil seseorang dengan nama Ratna, kemudian seorang gadis dengan pakaian mini berwarna hitam putih menghampirinya.

“saya pak,….” Jawab gadis itu

“Ada telepon untuk saya ?” tanya Andy

“Tidak ada pak….” Jawab Ratna yang tidak lain dia adalah sekretaris Andy.

“Nanti kalau ada telepon buat saya, langsung sambungkan keruangan saya..” Pinta Andy pada Sekretarisnya yang bernama Ratna.

“Baik Pak…” Jawab Ratna, Andy langsung berlalu dari hadapannya menuju ruang kerjanya.

Diruang kerjanya Andy tidak bisa konsentrasi dengan segudang pekerjaannya. Dia benar-benar dibuat penasaran oleh seraut wajah cantik dan secercah senyum manis dari gadis diperempatan jalan dibawah lampu merah itu. Andy melamun, pandangannya dia terawangkan kesisi ruangan kerjanya. Kring….kring…kring….lamunan Andy dikejutkan oleh bunyi telepon yang berdering.

“Ada telepon buat bapak dari bapak  Rudi” Suara Ratna dari telepon itu.

“Sambungkan,…!!!” perintah Andy.

“Hallo pak Rudi, apa kabar ?” Tanya Andy dari telepon.

“Baik pak Andy, Pak Andy sendiri apa kabar ?”

“Baik, baik pak Rudi, ngomong – ngomong ada apa ini ?”

“Ini pak, ada tander, tapi sistemnya lelang, kalau Pak Andy mau tander itu, kita bisa ketemu pak.” Kata Rudi dari telepon menjelaskan maksudnya.

“Oke…kapan kita bisa ketemu ?”

“Gimana kalau nanti malam di rumah makan Melati jam tujuh?”

“ Oke, nanti saya bersama Boby, nanti sore saya masih ada acara, setelah itu saya langsung kelokasi.”

“Oke, saya tunggu Pak Andy, sampai ketemu nanti malam.”

Telepon itu mati, Andy memencet nomor lagi.

“Boby…keruanganku sekarang.” Andy memanggil Boby dari telepon, beberapa kemudian disusul dengan ketokan pintu dari luar ruang kerjanya.

“Masuk…” jawab Andy.

“Ada apa An ?” tanya boby setelah sampai di depan Andy.

“Duduk dulu, ada yang ingin saya bicarakan.” Perintah Andy.

“tapi bukan soal gadis tadi itu kan ?” tanya Boby.

“Ya bukanlah bob, ada hal yang lebih penting dari itu.”

“hal penting apa ?”

“Tadi pak Rudi dari CV. MERPATI TERBANG telepon, dia menawarkan tander untuk perusahaan kita, dia mengajak kita ketemu nanti malam jam tujuh, tolong kamu persiapkan ya..”

“Diaman ketemuannya ?”

“Dirumah makan MELATI, oh ya nanti setelah dari kantor kamu ikut aku ya ke Panti asuhan SARFALELLA.”

“Aduh Andy, ternyata kamu belum jera juga ya, kalau aku sih tidak apa-apa diajak kemana saja pasti mau, tapi kamu belum jera dimarahi mama kamu ya…?”

“Mumpung sekarang mama sama papa masih di luar negeri tau, sekarang kamu mau ikut apa tidak ?” Andy menawarkan sekali lagi pada Boby dengan sedikit kesal.

“Ya deh, aku ikut…..”

“Ya sudah sana kamu kembali ketempat kerjamu.”

“Siap bos…..!!!”

“Bas bos, bas bos, tutup lagi tu pintu.” Gertak Andy pada Boby yang sudah ada dipintu dan gertakan itu hanya ditanggapi senyuman dari Boby.

* * *

Disebuah gubuk dipinggir kali yang hanya dihuni dua orang didalamnya, Izza dan Lukman sedang bersiap-siap untuk pergi ke Panti Asuhan SARFALELLA. Izza mempunyai tugas mengajar Al-Qur’an di Panti asuhan itu mulai dari jam dua siang sampai dengan jam setengah lima sore.

Kali ini Izza bukan tampak seperti seorang pengemis jalanan, tapi dengan menggunakan busana muslimah yang tampak hanya wajah dan telapak tangannya itu, busana itu mirip mukena, wajah ayunya sungguh sangat menawan, pipinya yang lesung menambah keanggunan tubuhnya yang dibalut busana itu.

“Lukman….!” Izza memanggil adiknya.

“Ya Mba’….” Jawab Lukman

“Sudah siap belum ? Sebentar lagi pengajian Al-Qur’an akan dimulai.”

“Sudah Mba’, “ terdengar suara Lukman dari kamarnya.

“Berangkat yuk…..” ajak Izza sama adiknya.

“Ayuk Mba’…..” Lukman keluar dari kamarnya dengan menggendong tas yang didalamnya berisi IQRO’.

Izza dan Lukman berangkat dibawah terik matahari yang bersinar cerah menghangatkan tubuh mereka. Tiba-tiba sebuah mobil Innova hitam dari arah samping, Ciiiiittttz…..mobil itu berhenti mendadak 20 senti meter dari  Izza dan Lukman.

Baca entri selengkapnya »

Hello world!

Posted: 18 November 2010 in kumpulan novel religi

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!